Menapaki Jalan Keilmuan di UNIDA Gontor, M. Rasihan Anwar Membawa Harapan bagi Pendidikan ZAMIGA
On Minggu, November 08, 2026
PENDIDIKAN
![]() |
| Menapaki Jalan Keilmuan di UNIDA Gontor, M. Rasihan Anwar |
PASAMAN BARAT, SUMATERA BARAT, Prodeteksi.com — Perjalanan pendidikan bukan semata-mata tentang meraih gelar akademik, tetapi juga tentang membentuk karakter, memperluas cakrawala berpikir, dan mempersiapkan diri untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Prinsip inilah yang turut mewarnai perjalanan pendidikan M. Rasihan Anwar, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam, Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, asal Parit, Kecamatan Koto Balingka, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat.
Tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memiliki perhatian besar terhadap pendidikan Islam, Rasihan telah mengenal kehidupan pesantren sejak menempuh pendidikan tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Pondok Pesantren Zamiga. Lingkungan pendidikan tersebut menjadi salah satu fondasi awal yang menumbuhkan kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan, pendidikan Islam, dan tradisi kepesantrenan.
Setelah menyelesaikan pendidikan MTs, ia melanjutkan pendidikan di SMK TI ZAMIGA dengan mengambil kompetensi keahlian Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). Meskipun menempuh pendidikan di bidang teknologi informasi, ketertarikannya terhadap dunia pendidikan Islam tetap tumbuh. Hal itu kemudian membawanya melanjutkan studi ke Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang pada Program Studi Pendidikan Bahasa Arab.
Dalam perjalanan akademiknya, Rasihan kembali mengambil langkah untuk memperdalam keilmuan Islam dengan melanjutkan pendidikan di Universitas Darussalam Gontor (UNIDA Gontor), Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah.
Keputusan melanjutkan pendidikan di Gontor berangkat dari keinginan pribadi yang telah tumbuh sejak lama dan semakin kuat setelah mendapatkan dukungan keluarga. Baginya, Gontor bukan hanya tempat untuk menimba ilmu, melainkan juga lingkungan pendidikan yang memberikan kesempatan untuk memahami sistem kepesantrenan secara lebih mendalam, meningkatkan kemampuan berbahasa Arab dan Inggris, serta membentuk kepribadian melalui nilai-nilai kedisiplinan dan keikhlasan.
Ia berharap proses pendidikan tersebut dapat memperkaya wawasan keislaman sekaligus mempersiapkan dirinya menghadapi tantangan pendidikan di tengah perkembangan masyarakat yang semakin dinamis.
Ketertarikan Rasihan terhadap dunia pendidikan tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan akademik. Sejak menempuh pendidikan, ia juga aktif dalam berbagai kegiatan organisasi yang memberikan ruang untuk mengembangkan kemampuan kepemimpinan dan tanggung jawab.
Salah satu pengalaman yang turut membentuk dirinya adalah ketika dipercaya mengemban amanah sebagai Pradana Pramuka di lingkungan sekolah selama periode 2023–2025. Melalui tanggung jawab tersebut, ia memperoleh pengalaman dalam mengoordinasikan anggota, merencanakan dan melaksanakan kegiatan, mengambil keputusan, serta membangun kerja sama dalam organisasi.
![]() |
| Berama Ibu dan kakak Tria Fitri Utami, S,Kom, M.Kom |
Ketika melanjutkan pendidikan di UIN Imam Bonjol Padang, pengalaman kemahasiswaannya semakin berkembang. Ia juga terpilih sebagai Duta Muslim Program Studi Pendidikan Bahasa Arab. Kepercayaan tersebut menjadi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, memperluas jaringan pergaulan akademik, serta meningkatkan keterlibatan dalam kegiatan keislaman dan kemahasiswaan.
Berbagai pengalaman tersebut memberikan pemahaman bahwa kepemimpinan bukan sekadar persoalan kedudukan atau jabatan. Lebih dari itu, kepemimpinan merupakan amanah yang menuntut kedisiplinan, keteladanan, kemampuan bekerja sama, dan kesediaan memberikan manfaat bagi lingkungan.
Turut Memikirkan Masa Depan Pondok Pesantren Zamiga
Di luar aktivitas akademik dan organisasi, Rasihan memiliki kedekatan tersendiri dengan Pondok Pesantren Zamiga, lembaga pendidikan yang dirintis dan dikembangkan melalui kontribusi kedua orang tuanya. Kedekatan tersebut telah terbangun sejak ia menjadi bagian dari lingkungan pendidikan pesantren ketika menempuh pendidikan MTs.
Seiring bertambahnya pengalaman dan wawasan, ia mulai turut memberikan masukan, pemikiran, serta gagasan kepada kedua orang tuanya terkait pengelolaan dan pengembangan pendidikan pesantren. Hal tersebut mencakup berbagai pemikiran mengenai kegiatan santri, program pendidikan, pembinaan, hingga aktivitas kepesantrenan lainnya.
Meskipun belum memegang jabatan struktural secara resmi, keterlibatannya dalam memberikan pertimbangan dan gagasan merupakan bagian dari proses pembelajaran untuk memahami tata kelola lembaga pendidikan secara langsung.
Melalui kedekatan tersebut, ia juga berkesempatan mengenali berbagai tantangan dalam pengelolaan pesantren, mulai dari pembinaan karakter santri, pengembangan program pendidikan, peningkatan kualitas pembelajaran, hingga pentingnya menjaga lingkungan pendidikan yang kondusif.
Sebagai bagian dari generasi muda yang diharapkan dapat meneruskan perjuangan pendidikan keluarga, Rasihan menyadari bahwa tanggung jawab tersebut membutuhkan persiapan panjang. Kedalaman ilmu, kematangan kepribadian, pengalaman kepemimpinan, serta kemampuan memahami perkembangan zaman menjadi bekal penting yang harus terus dibangun.
Baginya, meneruskan perjuangan pendidikan bukan sekadar melanjutkan sebuah lembaga, melainkan menjaga nilai, cita-cita, dan semangat pengabdian yang telah dibangun oleh generasi sebelumnya.
| Ketika masih di seklah (SMK TI ZAMIGA) |
Salah satu gagasan yang menjadi perhatian Rasihan dalam memandang masa depan pendidikan Islam adalah pentingnya menghidupkan kembali tradisi keilmuan yang diwariskan para salafus shalih, sekaligus mengembangkannya agar tetap relevan dengan kebutuhan dan perkembangan zaman.
Menurut pandangannya, kemajuan pendidikan Islam tidak seharusnya membuat lembaga pendidikan kehilangan akar keilmuan dan nilai-nilai yang telah diwariskan para ulama terdahulu. Tradisi keilmuan tersebut justru perlu dijaga, dipahami, dan dikembangkan sebagai landasan dalam membimbing generasi masa kini.
Ia memandang pesantren harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan agama, tetapi juga beradab, berakhlak, memiliki kemampuan berbahasa, serta mampu memahami perkembangan ilmu pengetahuan dan dinamika kehidupan masyarakat.
Dalam menggambarkan prinsip yang ingin diperjuangkannya, Rasihan menyampaikan pandangan:
"Menjaga tradisi keilmuan bukan berarti menolak perkembangan zaman. Justru tradisi itulah yang menjadi pijakan agar kemajuan tetap memiliki arah. Pendidikan Islam harus mampu melahirkan generasi yang kuat dalam ilmu, baik dalam adab, dan luas dalam wawasan," ungkapnya.
![]() |
| Ketika masih di seklah (SMK TI ZAMIGA), Terima Piagam Penghargaan |
Pemikiran tersebut menjadi salah satu arah pandangannya dalam melihat masa depan pendidikan pesantren. Baginya, mempertahankan tradisi bukan berarti menutup diri terhadap perubahan. Demikian pula, mengikuti perkembangan zaman tidak berarti harus meninggalkan prinsip-prinsip keilmuan Islam.
Keseimbangan antara warisan keilmuan, pembentukan akhlak, penguasaan bahasa, dan pemahaman terhadap perkembangan ilmu pengetahuan merupakan hal penting dalam mempersiapkan generasi Muslim yang mampu menghadapi tantangan masa depan.
![]() |
| Ketika masih di seklah (SMK TI ZAMIGA) |
Menyiapkan Diri untuk Pengabdian di Dunia Pendidikan Islam
Perjalanan M. Rasihan Anwar masih berada dalam tahap pembentukan dan pengembangan kapasitas diri. Pendidikan yang sedang ditempuhnya di UNIDA Gontor menjadi salah satu bagian penting dalam mempersiapkan diri untuk berkontribusi lebih jauh bagi dunia pendidikan Islam.
Ia menyadari bahwa mengembangkan lembaga pendidikan membutuhkan lebih dari sekadar semangat dan gagasan. Diperlukan kedalaman ilmu, pengalaman, kemampuan manajerial, keteladanan, serta kesungguhan dalam menjalankan tanggung jawab.
Perhatian terhadap pengembangan Pondok Pesantren Zamiga juga menjadi salah satu bagian dari arah pengabdiannya pada masa mendatang. Ia berharap ilmu, pengalaman, dan wawasan yang diperoleh selama menempuh pendidikan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan pesantren tersebut maupun dunia pendidikan Islam secara lebih luas.
Baginya, pendidikan bukan hanya tentang bagaimana seseorang memperoleh pengetahuan, tetapi juga tentang bagaimana ilmu membentuk karakter, melahirkan kepedulian, dan memberikan manfaat bagi kehidupan.
Perjalanan yang sedang ditempuh Rasihan menjadi bagian dari ikhtiar panjang untuk mempersiapkan diri menghadapi tanggung jawab masa depan. Sebuah perjalanan yang tidak semata-mata berorientasi pada pencapaian pribadi, tetapi juga membawa harapan untuk turut menjaga tradisi keilmuan, mengembangkan pendidikan pesantren, dan melahirkan generasi yang berpegang teguh pada nilai-nilai Islam sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan zaman.
Dari Parit, Koto Balingka, hingga lingkungan akademik UNIDA Gontor, perjalanan tersebut menjadi gambaran bahwa pengabdian kepada dunia pendidikan dapat dimulai dari proses panjang menuntut ilmu, membangun karakter, dan mempersiapkan diri untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi umat dan masyarakat. ***** M. Rshn













