HEADLINE NEWS

Pemkab Pasbar Anggarkan 200 Juta untuk Jalan Rura Patontang dan Sedang Diajukan Proposal ke Pusat 14 Miliar

By On Rabu, Juni 03, 2026

 

 

 Jalan Rura Patontang


PASAMAN BARAT, prodeteksi.com – Rencana peningkatan akses jalan menuju Jorong Rura Patontang, Kecamatan Koto Balingka, menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat. Hal ini menyusul peristiwa memilukan yang terjadi beberapa waktu lalu, ketika seorang ibu hamil harus ditandu melewati jalan yang sulit untuk mendapatkan pertolongan medis. Dalam kejadian tersebut, bayi yang dilahirkannya tidak dapat diselamatkan.


Pasca kejadian tersebut, Bupati Pasaman Barat langsung meninjau lokasi dan menyatakan komitmennya untuk memprioritaskan pembangunan jalan menuju Rura Patontang guna memperlancar akses masyarakat, terutama di bidang kesehatan.


Dukungan dari berbagai pihak terus mengalir agar pemerintah daerah segera merealisasikan pembangunan infrastruktur di wilayah tersebut. Selain peningkatan jalan yang sudah ada, muncul pula usulan pembangunan jalan lingkar terluar yang menghubungkan Rura Patontang dengan Sawah Mudik. Jalur yang diperkirakan hanya sepanjang sekitar dua kilometer tersebut dinilai strategis karena dapat membuka keterhubungan Rura Patontang dengan Nagari Batahan Utara.


 Dinas PUPR Pasbar


Keberadaan jalan alternatif tersebut diyakini akan mengakhiri kondisi Rura Patontang sebagai daerah yang terkesan buntu dan membuka peluang lebih besar bagi pertumbuhan ekonomi serta peningkatan pelayanan publik di masa mendatang.


Sementara itu, Pemkab Pasbar melalui Penjabat Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Pasaman Barat, Bambang Sumarsono, ST, mengatakan bahwa untuk Tahun Anggaran 2026 pemerintah daerah telah mengalokasikan dana sebesar Rp200 juta untuk peningkatan akses jalan menuju Rura Patontang.


Menurutnya, pelaksanaan pekerjaan tersebut akan segera dimulai. Namun hingga saat ini pihaknya masih melakukan kajian terkait prioritas penggunaan anggaran, apakah akan difokuskan pada perbaikan jalan atau rehabilitasi jembatan yang berada di lokasi tersebut.


 Bambang Sumarsono, ST


“Kita akan mempertimbangkan mana yang lebih mendesak dan memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat, apakah perbaikan jalan atau jembatan,” ujarnya.


Bambang menjelaskan bahwa keterbatasan kemampuan anggaran daerah pada tahun 2026 menyebabkan alokasi dana yang dapat diarahkan ke Rura Patontang masih relatif terbatas.


Meski demikian, pihaknya terus berupaya mencari sumber pendanaan tambahan. Salah satunya dengan mengajukan proposal bantuan ke pemerintah pusat melalui Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Untuk program peningkatan jalan Rura Patontang, pemerintah daerah telah mengusulkan anggaran sekitar Rp14 miliar.


“Kami masih berupaya agar Pasaman Barat mendapatkan dukungan dana untuk pembangunan dan perbaikan jalan, terutama pasca berbagai bencana yang terjadi. Mudah-mudahan usulan tersebut dapat disetujui,” katanya.


Apabila proposal tersebut disetujui, dana yang diperoleh akan digunakan untuk peningkatan jalan secara menyeluruh, mulai dari pengaspalan hingga pembangunan jalan rabat beton yang layak sehingga dapat dilalui kendaraan roda empat dengan aman dan lancar.


Selain itu, masih terdapat sekitar satu kilometer ruas jalan yang belum ditingkatkan. Di sepanjang jalur tersebut juga terdapat beberapa jembatan dan gorong-gorong yang membutuhkan penanganan. Nantinya, metode pembangunan akan disesuaikan dengan kondisi lapangan, baik melalui pengaspalan maupun pembangunan konstruksi beton.


Meski demikian, Bambang menegaskan bahwa usulan dana Rp14 miliar tersebut masih dalam tahap pengajuan dan belum dapat dipastikan akan memperoleh persetujuan dari pemerintah pusat.


“Ini masih berupa proposal yang kami ajukan. Belum bisa dipastikan apakah akan disetujui atau tidak. Namun kita berharap dan berdoa agar usulan tersebut dapat diterima sehingga pembangunan jalan Rura Patontang dapat terlaksana secara maksimal,” pungkasnya. *** irz

Dr. Maneger Nasution: Jalan ke Rura Patontang Seharusnya Sudah Dibangun Sejak Dulu

By On Senin, Juni 01, 2026

 

 Dr. Maneger Nasution, S.Ag, M.A, M.H



Pasaman Barat, prodeteksi.com – Dukungan terhadap percepatan pembangunan akses jalan menuju Jorong Rura Patontang terus mengalir dari berbagai kalangan, termasuk dari putra daerah yang telah sukses berkiprah di tingkat nasional. Salah satunya datang dari Dr. Maneger Nasution, S.Ag., M.A., M.H, tokoh kelahiran Rura Patontang tahun 1968 yang saat ini dipercaya sebagai salah  seorang anggota Ombudsman Republik Indonesia.


Saat dimintai tanggapan mengenai rencana pembangunan jalan menuju kampung halamannya, Senin 1 Juni lewat phonselnya, Dr. Maneger menyampaikan harapannya agar pembangunan tersebut dapat segera terealisasi dan berjalan dengan baik.


“Masukan sudah banyak diberikan. Semoga kali ini benar-benar dapat terlaksana dengan baik,” ujarnya.




Tokoh nasional yang pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi Hukum dan Hak Asasi Manusia Majelis Ulama Indonesia (MUI), Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), serta anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) itu mengungkapkan bahwa dirinya telah lama menyuarakan pentingnya pembangunan akses jalan menuju Rura Patontang.


Menurutnya, pembangunan jalan tersebut seharusnya sudah menjadi perhatian pemerintah sejak bertahun-tahun lalu. Bahkan, ia mengaku telah menyampaikan persoalan keterisolasian wilayah tersebut sejak tahun 2012.


“Mestinya jalan itu sudah dibangun dari dulu. Saya sudah berbicara mengenai kondisi jalan ke sana sejak tahun 2012,” katanya.


Dr. Maneger menilai kondisi yang dialami masyarakat Rura Patontang saat ini menjadi sebuah ironi di tengah berbagai kemajuan yang sedang digaungkan pemerintah. Di satu sisi, negara berbicara tentang transformasi digital, kecerdasan buatan, modernisasi layanan publik, hingga penguatan sistem kesehatan. Namun di sisi lain, masih terdapat wilayah yang belum memiliki akses jalan memadai untuk kendaraan roda empat.




Menurutnya, keterbatasan akses tersebut bukan hanya persoalan transportasi, tetapi juga menyangkut hak dasar masyarakat untuk memperoleh pelayanan publik yang layak.


Ia menegaskan bahwa negara sebenarnya telah mengetahui kondisi keterisolasian yang dialami masyarakat di wilayah tersebut. Namun hingga kini, solusi yang konkret dan berkelanjutan belum sepenuhnya dirasakan oleh warga.


“Yang paling memprihatinkan adalah ketika persoalan ini sudah diketahui selama bertahun-tahun, tetapi belum mampu diselesaikan secara tuntas. Padahal akses jalan merupakan kebutuhan dasar yang sangat menentukan kualitas hidup masyarakat,” ungkapnya.


Lebih lanjut, Dr. Maneger menekankan bahwa jalan rusak atau jalan yang belum terbangun bukan sekadar masalah infrastruktur fisik. Menurutnya, kondisi tersebut juga mencerminkan lambannya keberpihakan pembangunan terhadap masyarakat yang tinggal di daerah terpencil.


“Jalan yang tidak pernah selesai dibangun adalah simbol dari lemahnya prioritas pembangunan, kurangnya keberpihakan anggaran, dan menurunnya sensitivitas birokrasi terhadap kebutuhan warga di wilayah pinggiran,” tegasnya.


Ia berharap pembangunan jalan menuju Rura Patontang dapat menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dalam upaya membuka keterisolasian, mempercepat pertumbuhan ekonomi masyarakat, serta meningkatkan akses pendidikan dan pelayanan kesehatan.


Bagi Dr. Maneger, pembangunan akses jalan bukan hanya soal membuka jalur transportasi, melainkan juga membuka harapan baru bagi masyarakat agar dapat menikmati hasil pembangunan secara lebih adil dan merata, sebagaimana warga di daerah lain di Indonesia. *** irz

Tokoh Masyarakat Usulkan Pembangunan Jalan Lingkar Luar Rura Patontang–Sawah Mudik untuk Buka Keterisolasian Wilayah

By On Senin, Juni 01, 2026


 M. Riad Zamin


PASAMAN BARAT, prodeteksi.com  — Sulitnya akses menuju Jorong Rura Patontang diduga salah satunya disebabkan karena jalur tersebut masih buntu dan belum terhubung dengan jorong-jorong lain di sekitarnya. Kondisi ini dinilai menjadi salah satu faktor yang menghambat perkembangan ekonomi, pendidikan, dan pelayanan kesehatan masyarakat setempat.


Menanggapi hal tersebut, tokoh masyarakat asal Sawah Mudik, Kecamatan Ranah Batahan, M. Riad Zamin, mengusulkan agar pemerintah membangun jalur lingkar luar yang menghubungkan Rura Patontang dengan Sawah Mudik serta sejumlah jorong lainnya di Nagari Batahan Utara.






“Saya rasa perlu dibangun jalan lingkar luar menuju Sawah Mudik. Jarak yang harus dibuka hanya sekitar dua kilometer dari Rura Patontang menuju jalan yang sudah diterobos dari Sawah Mudik,” ujar Riad.


Menurutnya, jalur penghubung antara Sabajulu (Sawah Mudik) dan Rura Patontang sebenarnya telah ada sejak zaman kolonial Belanda. Dahulu masyarakat memanfaatkan jalan setapak tersebut untuk menghadiri acara keluarga maupun kegiatan sosial lainnya.


“Jalan pintas dari Sabajulu ke Rura Patontang itu sudah ada sejak zaman Belanda. Ketika ada acara pernikahan atau kegiatan kekeluargaan, masyarakat menggunakan jalur tersebut,” jelasnya.


Riad menambahkan, masyarakat Sabajulu telah merintis pembukaan jalan menuju Batang Batahan. Saat ini, jarak yang perlu dibuka untuk menghubungkan jalur tersebut dengan Rura Patontang relatif pendek, yakni sekitar dua kilometer. Sementara dari Sawah Mudik  ke Rura Patontang hanya sekitar 2,5 kilometer.



Ia juga mendukung berbagai aspirasi masyarakat yang menginginkan percepatan pembangunan jalan tersebut. Menurutnya, akses yang menghubungkan Sabajulu, Batang Batahan, dan Rura Patontang merupakan titik strategis yang harus segera dibuka untuk mengatasi keterisolasian wilayah.


Terkait pembebasan lahan, Riad optimistis hal itu dapat diselesaikan melalui musyawarah antara masyarakat, pemerintah jorong, serta para ninik mamak setempat.


“Pembebasan lahan akan diupayakan bersama masyarakat Jorong Rura Patontang, pihak jorong, dan ninik mamak. Dengan niat baik, saya yakin hal itu tidak akan menjadi masalah,” katanya.


Apabila jalan lingkar luar tersebut terealisasi, maka akan terbentuk konektivitas yang menghubungkan Jorong Pangambiran, Jorong Rura Patontang, Jorong Sawah Mudik, hingga Jorong Silayang Julu dan lainnya. Jalur ini diyakini akan menjadi akses strategis yang mampu mempercepat pembangunan di wilayah Pasaman Barat bagian utara.



Menurut Riad, pembangunan jalan tersebut bukan hanya sekadar membuka akses transportasi, tetapi juga menjadi solusi nyata untuk mengurangi ketertinggalan daerah terpencil.


“Jalan Rura Patontang tidak akan maksimal tanpa adanya jalur lingkar luar yang menghubungkan Pangambiran, Rura Patontang, dan Sawah Mudik. Jika pemerintah memiliki kemauan dan tekad membantu masyarakat, pembangunan ini sangat realistis untuk diwujudkan,” tegasnya.


Lebih lanjut, ia mendorong pemerintah daerah agar lebih serius menjalankan program pembangunan kawasan terluar di Kabupaten Pasaman Barat. Menurutnya, upaya tersebut harus mendapat dukungan legislatif dan dilaksanakan secara nyata oleh pihak eksekutif.


“Pembangunan daerah harus dimulai dari wilayah terluar. Dengan terbukanya akses jalan, pergerakan ekonomi akan semakin berkembang, pelayanan kesehatan lebih mudah dijangkau, dan kesempatan pendidikan menjadi lebih merata,” ujarnya.


Riad menilai selama ini pembangunan masih cenderung terpusat di kawasan perkotaan, sementara masyarakat di daerah terpencil masih menghadapi berbagai keterbatasan dalam mengakses pendidikan, kesehatan, dan peluang ekonomi.


Ia berharap pembangunan jalan lingkar luar tersebut dapat menjadi langkah awal untuk menciptakan pemerataan pembangunan, memperkuat persatuan masyarakat antarwilayah, serta menghadirkan kesejahteraan yang lebih merata bagi seluruh warga Pasaman Barat.


“Jika ini terlaksana, akan tercipta masyarakat yang harmonis, saling menghargai, dan tidak ada lagi kesenjangan antarwilayah. Inilah langkah menuju daerah yang maju, adil, dan penuh keberkahan,” pungkasnya. *** irz


Kuliah Penuh Perjuangan di UT, Istri Pimpinan YPPIT - ZAMIGA Akhirnya Raih Gelar S.Pd

By On Senin, Juni 01, 2026

 

 Megawati, S.Pd



PASAMAN BARAT, prodeteksi.com – Setelah menempuh perjalanan panjang dan penuh perjuangan selama menjalani perkuliahan di Universitas Terbuka (UT) Padang, Megawati akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan Strata Satu (S1) dan meraih gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd).


Megawati yang merupakan istri dari Irti Zamin, S.S., Pemimpin Yayasan YPPIT ZAMIGA, dinyatakan lulus pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn).



Keberhasilan tersebut disambut rasa syukur oleh keluarga besar dan kerabat dekat. Ucapan selamat juga mengalir atas capaian Megawati yang dinilai menjadi inspirasi bagi anak didik ZAMUGA untuk terus semangat menempuh pendidikan di tengah berbagai tantangan.


Megawati yang beralamat di Jorong Parit, Keckoto Balingka, Kecamatan Sungai Beremas, Kabupaten Pasaman Barat, mengaku bersyukur atas kelulusan yang diraihnya.



“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dan mengucapkan terima kasih atas perhatian serta bantuan semua pihak, terutama keluarga yang selalu mendukung selama proses kuliah,” ujarnya.


Kelulusan Megawati ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Rektor Universitas Terbuka Nomor 698 Tahun 2026 tanggal 26 Februari 2026 tentang Pengukuhan Lulusan Universitas Terbuka Tahun Akademik 2025/2026 Genap.


Dalam surat tersebut, Rektor Universitas Terbuka menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh lulusan, termasuk Megawati.


“Selamat dan turut berbahagia, Saudara dinyatakan telah lulus dalam Program Studi yang Saudara ikuti di Universitas Terbuka,” demikian kutipan surat yang ditandatangani Rektor UT, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si.


Saat ini, Megawati masih menunggu proses penerbitan ijazah dari Direktorat Administrasi Akademik dan Kelulusan (DAAK) UT Pusat. Sementara itu, apabila ingin mengikuti prosesi wisuda, pendaftaran akan dilakukan melalui UT daerah.


Ucapan selamat dari Rektor UT tersebut juga ditembuskan kepada para Wakil Rektor, para Dekan, Direktur UT Daerah, dan UT Layanan Luar Negeri.

Keberhasilan Megawati meraih gelar S.Pd diharapkan dapat menjadi motivasi bagi anak didik ZAMIGA, khususnya kaum perempuan dan para guru, untuk terus meningkatkan pendidikan dan kompetensi diri demi masa depan yang lebih baik. *** irz

Eks Ketua DPRD Pasbar, Parizal Hafni  Desak Penuntasan Jalan Rura Patontang

By On Minggu, Mei 31, 2026

  

  Parizal Hafni, Mantan Ketua DPRD Pasbar


PASAMAN BARAT, prodeteksi.com – Akses infrastruktur di daerah terisolasi kembali menuai perhatian dari tokoh pemuka masyarakat. Mantan Ketua DPRD Pasaman Barat, Ir. Parizal Hafni, menegaskan bahwa penuntasan pembangunan jalan menuju ke Rura Patontang merupakan agenda wajib yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah daerah demi membuka konektivitas warga.


Pria yang berdomisili di Kecamatan Koto Balingka, Pasaman Barat ini menilai, pembenahan akses transportasi darat ke wilayah tersebut tidaklah sesulit yang dibayangkan apabila ada komitmen penuh dari pemangku kebijakan.


"Kalau pemerintah benar-benar serius, tidak sulit untuk menyelesaikan jalan aspal yang panjangnya kurang dari 10 kilometer dari Pegambiran," ujar Parizal Hafni saat memberikan pandangannya.



Parizal mengungkapkan bahwa persoalan keterisolasian Rura Patontang bukan hal baru. Upaya mendorong percepatan pembangunan jalur utama ini sudah berulang kali ia suarakan dalam berbagai forum rapat resmi pada masa dirinya masih aktif memimpin lembaga legislatif Pasaman Barat.


"Saya pernah menyampaikan langsung hal ini kepada pihak pemerintah daerah pada tahun 2020 lalu saat saya masih menjabat sebagai Ketua DPRD Pasaman Barat. Waktu itu kita dorong agar jalan Pegambiran menuju Rura Patontang segera dituntaskan," ungkapnya mengenang.


Namun sayangnya, rencana strategis tersebut terpaksa mengalami kendala besar akibat situasi darurat nasional. "Saat itu terjadi pandemi Covid-19 yang melanda, sehingga menyebabkan terjadinya rasionalisasi besar-besaran. Anggaran daerah terpaksa tersedot untuk penanganan wabah penyakit tersebut," tambahnya.



Ia meyakini, andai saja situasi normal dan anggaran dapat dialokasikan secara utuh pada saat itu, daerah Rura Patontang dipastikan sudah terbebas dari jerat keterisolasian. "Tentu pembangunannya sudah selesai dan jalannya hari ini sudah siap ditempuh dengan lancar oleh kendaraan roda empat," cetusnya.


Kondisi sulitnya akses ke Rura Patontang dibenarkan oleh salah seorang warga setempat, Saluddin. Ia membeberkan bahwa Bupati Pasaman Barat beserta rombongan sebenarnya baru saja berkunjung ke ke Rura Patontang pada minggu lalu. Kunjungan mendadak tersebut dilakukan pasca-adanya insiden memprihatinkan yang menimpa seorang ibu bernama Irhamni.


"Saat itu Pak Bupati datang mengunjungi rumah Ibu Irhamni untuk memberikan bantuan sosial dan melakukan pemeriksaan kesehatan. Namun, sepanjang kunjungan tersebut, tidak ada pembahasan spesifik mengenai perbaikan jalan ke desa kami," ungkap Saluddin.


Saluddin juga menyebutkan bahwa dalam kunjungan tersebut tidak ada agenda dialog atau pertemuan resmi antara rombongan bupati dengan masyarakat sekitar. Kendati demikian, ia menaruh harapan agar jajaran pemerintah daerah tersadar setelah merasakan sendiri ekstremnya jalur tersebut. Dan segera dilakukan peningkatan jalan yang bisa dilalaui mobil atau kenderaan roda empat " ungkapnya..



“Memang tidak ada pertemuan dengan masyarakat saat itu. Tapi saya yakin, dengan datang langsung ke sini, mereka telah menyaksikan sendiri dengan mata kepala mereka bagaimana sulitnya medan dan kondisi jalan yang harus kami lalui sehari-hari," tukasnya.

Rincian Kerusakan: Sisa 1,5 KM Lagi dan Butuh Jembatan

Lebih lanjut, Saluddin memaparkan bahwa kerusakan akses transportasi darat ini sejatinya sudah mulai terasa sejak memasuki wilayah Jorong Pegambiran hingga ke Rura Patontang.

Menurut hitungan warga, titik krusial yang benar-benar belum tersentuh pembangunan fisik dan pengaspalan menyisakan jarak yang relatif pendek, namun medannya sangat berat.

"Kalau yang rusak memang dapat dikatakan mulai dari Pegambiran. Jalan yang belum tersentuh pembangunan menuju Rura Patontang itu tinggal sekitar 1 hingga 1,5 kilometer lagi. Selain pengaspalan sisa jalan itu, ada dua jembatan serta gorong-gorong (polongan) yang mendesak untuk segera dibangun agar air tidak mengikis badan jalan," urai Saluddin .


Menanggapi realita di lapangan, Parizal Hafni kembali memberikan catatan kritis mengenai arah kebijakan pembangunan daerah. Ia menilai pemerintah pusat hingga daerah sudah seharusnya mengubah paradigma dengan meletakkan kawasan-kawasan pinggiran dan terisolasi sebagai basis utama pembangunan fisik.


Menurutnya, pemerataan infrastruktur bukan sekadar urusan akses transportasi, melainkan esensi dari pemenuhan hak-hak dasar hidup masyarakat yang selama ini tertinggal.

"Seharusnya pemerintah melihat daerah terisolasi seperti Rura Patontang ini sebagai basis utama pembangunan. Hal ini penting dilakukan agar masyarakat yang berada di pelosok juga dapat merasakan arti kemerdekaan yang sesungguhnya," pungkas Parizal . *** irz

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *