| Tokoh Rura Patontang Kritik Keras Akses Jalan: “Jangan Tunggu Korban Berikutnya” |
Pasaman Barat, prodeteksi.com — Peristiwa seorang ibu hamil yang harus ditandu sejauh 3 kilometer dari Jorong Rura Patontang, Nagari Pematang Panjang, Kecamatan Koto Balingka kembali memicu kritik tajam terhadap kondisi infrastruktur di wilayah pedalaman Pasaman Barat.
Tokoh masyarakat asal Rura Patontang yang kini merantau di Jakarta, Martondi Lubis, SH, MKn, menilai persoalan yang dialami warga bukan lagi sekadar keterbatasan pembangunan, tetapi sudah menyangkut keselamatan nyawa manusia.
“Ketika seorang bayi meninggal atau terlambat mendapatkan akses kesehatan karena jalan rusak, maka yang gagal bukan hanya infrastrukturnya, tetapi juga rasa keadilan sosial kita,” ujarnya, Jumat.
Menurutnya, pemerintah kabupaten, provinsi hingga pusat seharusnya menjadikan wilayah seperti Rura Patontang sebagai prioritas darurat kemanusiaan, bukan baru bergerak setelah persoalan ramai di media sosial.
![]() |
| Peristiwa seorang ibu hamil yang harus ditandu sejauh 3 kilometer dari Jorong Rura Patontang, |
“Jangan menunggu viral lalu sibuk memberi klarifikasi. Ukuran keberhasilan pembangunan itu bukan megahnya proyek di pusat kota, tetapi apakah masyarakat di pelosok masih harus bertaruh nyawa hanya untuk mencapai puskesmas,” katanya.
Ia meminta Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat tidak lagi memandang Rura Patontang sebagai wilayah pinggiran yang hanya dikunjungi saat terjadi musibah atau agenda seremonial.
“Yang paling mendesak itu membuka akses jalan yang benar-benar bisa dilalui ambulans, bukan tambal sulam musiman,” tegasnya.
Selain infrastruktur jalan, Martondi juga menyoroti pentingnya kehadiran tenaga kesehatan yang menetap di wilayah terpencil agar masyarakat tidak selalu menghadapi keterlambatan penanganan medis.
“Pemerintah harus memastikan layanan darurat bisa diakses cepat oleh masyarakat. Karena yang dialami warga Rura Patontang ini bukan sekadar ketertinggalan pembangunan, tapi sudah menyangkut keselamatan manusia,” ungkapnya.
Ia mengingatkan pemerintah agar tidak menunggu jatuhnya korban berikutnya sebelum mengambil langkah nyata.
“Jangan tunggu ada korban berikutnya baru semua turun ke lokasi dan sibuk klarifikasi,” katanya lagi.
Saat ditanya mengenai keterbatasan anggaran daerah, Martondi mengaku tidak ingin masuk terlalu jauh ke persoalan teknis. Namun ia memberikan analogi sederhana tentang tanggung jawab pemerintah terhadap rakyatnya.
“Kalau anak kita sakit atau kelaparan sementara kita tidak punya uang, orang tua yang bertanggung jawab pasti akan berusaha sekuat tenaga. Begitu juga pemerintah terhadap rakyatnya,” ujarnya.
Menurutnya, tanpa aksi demonstrasi pun persoalan jalan di Rura Patontang kini sudah menjadi perhatian publik karena ramai diperbincangkan di media dan media sosial.
“Saya yakin pemerintah daerah sudah mengetahui kejadian ini. Sekarang kita tunggu saja apa reaksinya,” tutupnya. *** irz
You are reading the newest post
Next Post »
.png)
.png)