Maligi Pasbar, Kawasan Tertinggal yang Butuh Sentuhan Pembangunan

Transportasi menggunakan perahu di Maligi Pasaman Barat, menambah beban pengeluaran masyarakat

Pasaman Barat, prodeteksi.com----AKSES penghubung jalan dan jembatan menuju Maligi Nagari Sasak Kecamatan Sasak Ranah Pasisie Kabupaten Pasaman Barat, sepertinya kian memprihatinkan.  Namun, harapan masyarakat yang sejak lama didambakan, sampai saat ini sepertinya hanya sebatas mimpi belaka.
   
Salah satunya adalah, pembangunan jembatan di atas Sungai Batang Suak, yang terpasang hanyalah tiang pancang saja. Padahal, rencananya akan dibangun pada tahun 2017 silam.

Salah seorang warga Alfajri, Minggu (6/10/2019), mengatakan, sekarang masyarakat Maligi sendiri hanya bisa pasrah.  Sebab, Sungai Batang Suak tersebut hanya bisa dilewati apabila dalam kondisi sungai kering.

Tiang Pancang untuk jembatan yang tak kunjung dilanjutkan
Namun, Sungai Batang Suak tersebut rawan banjir dan kerap menjadi muara daratan akibat kiriman air laut. Sehingga, kondisinya tidak bisa dilewati sama sekali dan terpaksa masyarakat menaiki perahu untuk menyeberangi sungai tersebut.

Tidak itu saja, beban masyarakat tambah berat karena perahu yang dinaiki itupun tidaklah gratis atau cuma- cuma. Masyarakat harus merogoh kocek untuk menaiki perahu tersebut sebesar Rp.6.000 (enam ribu rupiah) untuk pulang dan pergi.

Al hasil,  meskipun Pasaman Barat dinyatakan keluar dari status daerah tertinggal, namun kenyataannya, daerah Maligi sendiri sampai saat ini masih jauh dari sentuhan pembangunan. Bahkan masih sangat tertinggal dan belum lepas dari status daerah tertinggal.

Basri Can, selaku pemuka  masyarakat Maligi mengatakan,  sangat prihatin dengan kondisi ini. Karena Maligi sendiri jauh dari sentuhan pembangunan dan mereka merasa luput dari perhatian Pemerintah Daerah dan DPRD Pasbar.

“Kalau dilihat dari hasil bumi, perkebunan masyarakat cukup potensial. Belum lagi hasil tangkapan nelayan dan lainnya. Masyarakat pun taat membayar Pajak Bumi dan Bangunan. Namun  kami susah karena terkendala kelancaran transportasi karena tidak dibangunnya jembatan, “ ujar Basri Can.

Basri Can selaku pemuka masyarakat bersama dengan Ninik Mamak Maligi Yet Pides Dt. Majo lelo meminta perhatian Pemerintah Daerah Pasbar  karena mereka sangat membutuhkan pembangunan untuk peningkatan perekonomian masyarakat di sana.

Begitupun Endrian selaku Sekretaris Nagari Persiapan Maligi beserta anggota Bamus Nagari Sasak Faridal juga sangat berharap tentang kelanjutan pembangunan Jembatan Sungai Batang Suak . Karena, jembatan ini sangat berguna bagi masyarakat Maligi apalagi tentang adanya potensi pariwisata di Maligi ini.

“ Jika jembatan tidak dibangun, bagaimana menarik para pengunjung baik dari lokal maupun luar daerah untuk bisa berwisata ke Maligi. Sebab, akan terkendala lalu lintas transportasi , “ujar Endrian.

Sementara itu pemerhati pembangunan Pasaman Barat yang juga Ketua LSM TOPAN RI Pasbar, Arwin Lubis, turut merasa prihatin dengan kondisi pembangunan kawasan Maligi. Menurutnya hal ini hendaknya jadi perhatian Pemkab Pasbar dan DPRD Pasbar.

Begitupun semua kawasan lainnya di Pasaman Barat yang dinilai tertinggal. Jangan justru terlena dengan lepasnya status daerah tertinggal versi penilaian pemerintah pusat.

" Saya kira kita tak perlu menggembar -gemborkan keluarnya  status Pasbar dari daerah tertinggal. Sementara masih banyak kawasan yang justru sangat tertinggal dari sentuhan pembangunan. Oleh karena itu kita berharap pihak pemerintah daerah dan dinas terkait serta DPRD agar pro aktif turun ke lapangan dan respon terhadap aspirasi masyarakat, " harap Arwin *****by.roni/ irti z

Post a Comment

recentcomment

Author Name

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.