RSUD Ujung Gading Belum juga Dioperasikan, Mahasiswa Desak Bupati tidak Menunggu Tahun 2021

mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Uang Negara Pasaman Barat (Ampun Pasbar), melakukan aksi demonstrasi di halaman Kantor Bupati Pasbar. desak  bupati segera operasikan RSUD Ujung Gading

Pasaman Barat, prodeteksi.com------Sejak lama masyarakat menunggu, namun  RSUD Ujung Gading (RS Pratama) Kecamatan Lembah melintang Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar) belum juga dioperasikan.

Akibatnya, sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Uang Negara Pasaman Barat (Ampun Pasbar), melakukan aksi demonstrasi di halaman Kantor Bupati Pasbar, Kamis (23/7/2020).

Bagaimana tidak, RSUD Ujunggading telah dibangun dengan menghabiskan dana yang taksedikit. Mulai dibangun tahu 2018 dengan dana DAK sebesar Rp 43 Miliar, meliputi pembangunan fisik dan pengadaan alat kesehatan (Alkes)

Informasi yang diperoleh, rencana awal RSUD Ujung Gading akan dioperasikan pada Juni 2019. Namun gagal karena berbagai hal, seperti adanya pembangunan lanjutan, pembuatan landscape, pengaspalan jalan masuk dan lain sebagainya.

Seterusnya, direncanakan mulai dibuka dengan diawali peresmian yang ketika itu direncanakan pada momen HUT Pasbar ke-16 (Januari 2020). Namun entah apa masalahnya, lagi-lagi urung diresmikan ketika itu.

Bahkan, belum sempat diresmikan dan dibuka, terjadi rangkaian mutasi jabatan di lingkungan Pemkab Pasbar oleh Bupati H. Yulianto, termasuk pergantian Kepala Dinas Kesehatan dari Pejabat lama, Haryunidra kepada Jon Hardi.

Melihat lambannya pengoperasian RSUD Ujung Gading membuat mahasiswa yang peduli khususnya yang beraal arah utara Pasbar melakukan aksi demonstrasi. Mereka menuntut rumah sakit tersebut segera dioperasikan tahun ini juga, tidak menunggu tahun 2021.



“Masyarakat Ujung Gading dan sekitarnya khususnya arah utara Pasbar sangat membutuhkan pengoperasian RSUD Pratama Ujung Gading segera mungkin. Sebab, jika berobat ke RSUD Jambak  memakan waktu sekitar dua jam dan menambah biaya berobat. Belum laga mengancam taruhan nyawa dalam perjalanan, “kata Orator demonstrasi, Warham Eka Putra saat demonstrasi.

Apalagi ada kejadian beberapa waktu lalu seorang ibu setelah melahirkan meninggal dunia dalam perjalanan menuju RSUD Jambak. Diduga karena memakan waktu yang sangat lama maka ibu itu meninggal dunia.

"Oleh karena itu, kalau memang Pemkab Pasbar peduli kemasyarakat segera operasikan rumah sakit itu. Kasihan kita masyarakat dan telah memakan korban. Sementara kondisi bangunan RSUD itu mulai memprihatinkan pula, lantai bangunan turun dan atap mulai bocor,"ujarnya.

Usai orasi, mahasiswa meminta Bupati Pasbar menandatangani dua kesepakatan terkait kepastian kapan operasional RSUD Ujung Gading dan menuntut pemberhentian Kepala Dinas Kesehatan.
  
Warham Eka Putra yang dikonfirmasi prodeteksi.com mengaku merasa kecewa karena Bupati Pasbar tidak bersedia menandatangani kehendak mahasiswa, terkait jadwal yang pasti pengoperasian RSUD Ujung Gading . Padahal jelas Warham, mereka ingin hitam di atas putih.

“Kami sudah bosan dengan janji-janji. Kami akan lihat perkembangannya, jika tidak ada juga kejelasan pergerakan dari pemerintah, kami akan kembali demonstrasi jilid 2 dengan masa yang lebih banyak," tegasnya.

Sementara itu, Bupati Pasbar, Yulianto mengatakan, sesuai Peraturan Kementrian Kesehatan tahun 2020,  ada syarat yang harus dilengkapi yakni sertifikat layak fungsi (SLF). dari tim ahli bangunan, sebelum RSUD memperoleh izin operasional.

"Tim ahli itu tidak ada di Pasaman Barat. Kami telah menyurati Gubernur Sumbar pada 16 Juli 2020 agar menurukan tim ahli untuk memastikan rumah sakit itu bisa beroperasi. Kita masih menunggu tim ahli itu dari provinsi," ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Pasbar, Jon Hardi mengatakan, SLF merupakan sertifikat terhadap bangunan yang telah selesai dibangun dan telah memenuhi persyaratan kelaikan teknis sesuai fungsi bangunan. Tanpa SLF, gedung tidak bisa digunakan secara legal. 

RSUD Ujung Gading Kecamatan Lembah Melintang Kabupaten Pasaman Barat
Disamping itu jelas Jon Hardi, beberapa peralatan medis dan non medis juga masih kurang. Di antaranya peralatan ICU/ HCU, peralatan londry, peralatan dapur/ gizi dan lain lain. Begitupun tenaga kesehatan, yang sudah ada baru 23 orang, namun untuk jenis RS kata Jon Hardi masih kurang.

"Masih banyak yang harus dipersiapkan, disamping fasilitasnya yang masih kurang, Alat Kesehatan (Alkes) juga masih perlu ditambah. Kemudian yang sangat penting adalah SLF. Sebab, Izin Operasional RSUD bisa diperoleh setelah memiliki SLF, " terangnya..**irtz

Post a Comment

recentcomment

Author Name

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.